Arahman Ali
Olat Labaong ialah ikon pertambangan di tana Samawa; ikon yang merujuk pada pertambangan rakyat sekaligus Sumbawa Dream-nya tau Samawa. Walau sebenarnya kini aktivitas di Labaong tak seramai periode awal, namun tetap saja menjadi ikon penting dalam pertambangan. Labaong-labaong lain muncul dengan sendirinya, seiring dengan eksplorasi perorangan ataupun kelompok di pulau Sumbawa.
Berbisnis emas tidaklah mudah. Tidak semudah apa yang dibayangkan: mencari batu emas, mengolahnya, kemudian mendapatkan butiran emas. Apa yang terjadi di lapangan tidaklah semudah itu. Banyak proses yang mesti dijalani untuk mencari nafkah di emas. Hal yang perlu diingat lagi bahwa tidak semua penambang emas bisa menghasilkan keuntungan. Dalam logika biasa, berbisnis emas dapat menghasilkan keuntungan besar dan cepat. Namun pada kenyataannya tidaklah semudah itu. Banyak pula penambang yang mengalami kerugian bukan karena hasil yang tidak ada namun karena biaya operasional yang terlalu besar. Sudah banyak kelompok penambang yang tumbang karena tidak mengenal bisnis emas, baik yang disebabkan social cost yang tinggi maupun pengolahan yang salah. Ada pula penambang sukses dengan hasil emas dalam jumlah besar. Berbisnis emas sama dengan bisnis lainnya, ada dinamika ekonomi.
Labaong Effect
Ekonom liberal Frederic Bastiat sempat mengingatkan, bahwa dalam sebuah aktivitas masyarakat yang perlu diperhatikan yakni “efek yang tak terlihat, bukan yang terlihat” (Hukum, 2010). Berpijak dari cara pandang inilah kita memantau aktivitas Labaong. Kita sadari bahwa penambang emas di Sumbawa sebagian besar baru mengenal ihwal emas. Pengenalan sekaligus pembelajaran tersebut bisa dihitung dalam bulan. Dan sungguh luar biasa, cara belajar tersebut sangat cepat. Tanpa diminta pun, para penambang emas belajar geologi, jenis bebatuan, kimia, hingga aspek ekonomi. Godaan emas kemudian membuat banyak orang belajar atas kemauan sendiri, sebuah prestasi jika dilihat dari masifnya alih informasi dan teknologi yang berlangsung. Dengan cepat orang Sumbawa bisa belajar emas, bebatuan dan kimia. Aksi belajar masif ini tentu di luar program pemerintah, karena atas niat dan dana sendiri. Prestasinya untuk semua aktivitas belajar, pembelajar dengan niat keras belajar segala hal dalam waktu singkat.
Ekonomi Sumbawa kemudian menjadi dinamis ketika demam emas. Perputaran uang lebih besar dan cepat di sekitar pertambangan. Investasi perseorangan dan perusahaan bergerak cepat, tanpa perlu mengeluarkan sepeser pun dana promosi investari dari pemerintah, dana investasi berdatangan dengan sendiri. Investor dan pelaku tambang pun berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Sumbawa menjadi populer di antara penggiat tambang di Indonesia.
Perputaran uang dari pertambangan emas kemudian mendorong laju perdagangan lainnya. Permintaan kebutuhan pokok terus bertambah, kebutuhan primer dan tersier ikut terkena imbasnya. Jual beli handphone dan sepeda motor ikut menanjak, salah satu contoh menarik yang terkena efeknya. Perdagangan antar pulau pun lebih giat terutama dalam peralatan tambang dan emas mentah.
Sejak adanya demam Labaong, yang kemudian diteruskan dengan daerah-daerah lainnya, warga Sumbawa jadi banyak belajar banyak hal, antara lain:
Lingkungan Hidup. Perhatian dengan lingkungan hidup menyertai hadirnya aktivitas pertambangan. Entah isu ini karena peduli atau memang seolah-olah peduli. Penggunaan merkuri, sianida dan bahan kimia lainnya menjadi sorotan sejumlah pihak. Orang Sumbawa pun mau tak mau berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan hidup. Bila sebelumnya mengetahui selintas saja isu lingkungan hidup,
kini berhadapan langsung dengan persoalan.
Prilaku Sosial. Adanya aktivitas Labaong dan daerah-daerah tambang lainnya menyebabkan meningkatnya aktivitas sosial. Tau Samawa kemudian berinteraksi dengan banyak orang; dari beragam latar ekonomi, etnis dan asal kota. Interaksi sosial tersebut berlangsung dengan cepat dan ‘mendalam’, berbeda dengan interkasi sebelumnya yang terkesan pasif. Interaksi tersebut kemudian menjadi dialog budaya dan pertukaran pengetahuan. Orang-orang Tasikmalaya yang dianggap ahli urat emas berbagi pengetahuanya, begitu pula yang dilakukan oleh orang Manado. Prilaku sosial tersebut juga meningkat pada sesama tau Samawa. Lihat saja interaksi penambang dengan keluarga besarnya yang berada di desa-desa lain. Para penambang sering pula melakukan perjalanan dan silahturahmi dengan anggota keluarganya. Menjadi catatan penting, betapa seringnya penambang berpindah-pindah lokasi untuk mendapatkan hasil yang lebih besar, dan efek lainnya yakni seringnya penambang berkeliling seantero pulau Sumbawa.
Mental Wirausaha. Aktivitas Laboang jelas meningkatkan mental wirausaha orang Sumbawa. Penambangan dan perdagangan emas mengenalkan pada pengelolaan produksi dan perdagangan, termasuk manajemen sederhana yang menyertainya. Penambangan emas, mau tak mau, dikerjakan secara berkelompok. Kerja tim pun mengenalkan pada pembagian tugas, pembagian hasil, biaya operasional, waktu, dan logistik. Pola kerja dalam penambangan sedikit berbeda dengan pola pengelolaan ternak dan pertanian. Di sisi lain, penghasilan dari produksi tidaklah stabil seperti yang diperkirakan umum; ada kalanya banyak, ada saatnya sepi hasil. Dari sisilah kemudian menambah mental wirausaha di asah hingga tajam.
Alih informasi dan teknologi. Tanpa disadari, alih informasi dan teknologi tengah berlangsung, terutama alih teknologi dalam pengolahan emas. Teknologi rendah dan teknologi menengah dalam pengolahan emas mendadak hadir di Sumbawa, berbondong-bondong muncul, seperti arus bah. Orang Sumbawa pun sepertinya tidak menunggu bola liar, buktinya banyak sekali orang Sumbawa yang mencari tahu teknologi pengolahan emas ke pulau Jawa, Lombok hingga Manado. Perkenalan lanjut dengan teknologi ini pasti menambah kesadaran orang Sumbawa bahwa dengan teknologi bisa memudahkan produksi, produksi untuk bidang ekonomi apa pun.
Demikian segelintir efek positif dari demam pertambangan di pulau Sumbawa. Efek yang dihasilkan bukan hanya perputaran uang dan barang, melainkan efek jangka panjang berkaitan dengan sumber daya manusia. Begawan pembangunan Soedjatmoko dalam Dimensi Manusia dalam Pembangunan (1981) pernah mengingatkan betapa pentingnya mental manusia di suatu daerah terhadap kemajuan ekonomi dan sosial di daerah tersebut.
Diharapkan, suatu saat nanti, lahir pengusaha-pengusaha pertambangan dari tana Samawa ini. Bukan lagi pengusaha kelas teri namun pengusaha skala nasional. Semoga saja, pembelajaran bisnis sudah dimulai, tinggal bagaimana mendukung percepatan lahirnya pengusaha-pengusaha pertambangan asal Sumbawa.