Setelah berkali-kali men-download ebook gratis di beberapa situsja, jadi tertarik untuk berbagi ebook-ebook tersebut kepada semua pengunjung blog ini. Sebagian besar ebook yang termuat dalam blog ini merupakan ebook gratis. Benar-benar ebook yang ditujukan untuk disebar ke sebanyak mungkin orang. Jadi sejak disusun, ebook tersebut memang diniatkan untuk disebarluaskan dengan gratis. Ada pun ebook yang memiliki copyright, boleh jadi tersebar tanpa saya ketahui asal-usul ijinnya. Untuk yang terakhir diusahakan untuk tidak disebar lewat blog ini.

Selamat men-download ebook gratis. Berbagi itu indah!

Arahman Ali

Olat Labaong ialah ikon pertambangan di tana Samawa; ikon yang merujuk pada pertambangan rakyat sekaligus Sumbawa Dream-nya tau Samawa. Walau sebenarnya kini aktivitas di Labaong tak seramai periode awal, namun tetap saja menjadi ikon penting dalam pertambangan. Labaong-labaong lain muncul dengan sendirinya, seiring dengan eksplorasi perorangan ataupun kelompok di pulau Sumbawa.

Berbisnis emas tidaklah mudah. Tidak semudah apa yang dibayangkan: mencari batu emas, mengolahnya, kemudian mendapatkan butiran emas. Apa yang terjadi di lapangan tidaklah semudah itu. Banyak proses yang mesti dijalani untuk mencari nafkah di emas. Hal yang perlu diingat lagi bahwa tidak semua penambang emas bisa menghasilkan keuntungan. Dalam logika biasa, berbisnis emas dapat menghasilkan keuntungan besar dan cepat. Namun pada kenyataannya tidaklah semudah itu. Banyak pula penambang yang mengalami kerugian bukan karena hasil yang tidak ada namun karena biaya operasional yang terlalu besar. Sudah banyak kelompok penambang yang tumbang karena tidak mengenal bisnis emas, baik yang disebabkan social cost yang tinggi maupun pengolahan yang salah. Ada pula penambang sukses dengan hasil emas dalam jumlah besar. Berbisnis emas sama dengan bisnis lainnya, ada dinamika ekonomi.

Labaong Effect

Ekonom liberal Frederic Bastiat sempat mengingatkan, bahwa dalam sebuah aktivitas masyarakat yang perlu diperhatikan yakni “efek yang tak terlihat, bukan yang terlihat” (Hukum, 2010). Berpijak dari cara pandang inilah kita memantau aktivitas Labaong. Kita sadari bahwa penambang emas di Sumbawa sebagian besar baru mengenal ihwal emas. Pengenalan sekaligus pembelajaran tersebut bisa dihitung dalam bulan. Dan sungguh luar biasa, cara belajar tersebut sangat cepat. Tanpa diminta pun, para penambang emas belajar geologi, jenis bebatuan, kimia, hingga aspek ekonomi. Godaan emas kemudian membuat banyak orang belajar atas kemauan sendiri, sebuah prestasi jika dilihat dari masifnya alih informasi dan teknologi yang berlangsung. Dengan cepat orang Sumbawa bisa belajar emas, bebatuan dan kimia. Aksi belajar masif ini tentu di luar program pemerintah, karena atas niat dan dana sendiri. Prestasinya untuk semua aktivitas belajar, pembelajar dengan niat keras belajar segala hal dalam waktu singkat.

Ekonomi Sumbawa kemudian menjadi dinamis ketika demam emas. Perputaran uang lebih besar dan cepat di sekitar pertambangan. Investasi perseorangan dan perusahaan bergerak cepat, tanpa perlu mengeluarkan sepeser pun dana promosi investari dari pemerintah, dana investasi berdatangan dengan sendiri. Investor dan pelaku tambang  pun berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Sumbawa menjadi populer di antara penggiat tambang di Indonesia.

Perputaran uang dari pertambangan emas kemudian mendorong laju perdagangan lainnya. Permintaan kebutuhan pokok terus bertambah, kebutuhan primer dan tersier ikut terkena imbasnya. Jual beli handphone dan sepeda motor ikut menanjak, salah satu contoh menarik yang terkena efeknya. Perdagangan antar pulau pun lebih giat terutama dalam peralatan tambang dan emas mentah.

Sejak adanya demam Labaong, yang kemudian diteruskan dengan daerah-daerah lainnya, warga Sumbawa jadi banyak belajar banyak hal, antara lain:

Lingkungan Hidup. Perhatian dengan lingkungan hidup menyertai hadirnya aktivitas pertambangan. Entah isu ini karena peduli atau memang seolah-olah peduli. Penggunaan merkuri, sianida dan bahan kimia lainnya menjadi sorotan sejumlah pihak. Orang Sumbawa pun mau tak mau berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan hidup. Bila sebelumnya mengetahui selintas saja isu lingkungan hidup,
kini berhadapan langsung dengan persoalan.

Prilaku Sosial. Adanya aktivitas Labaong dan daerah-daerah tambang lainnya menyebabkan meningkatnya aktivitas sosial. Tau Samawa kemudian berinteraksi dengan banyak orang; dari beragam latar ekonomi, etnis dan asal kota. Interaksi sosial tersebut berlangsung dengan cepat dan ‘mendalam’, berbeda dengan interkasi sebelumnya yang terkesan pasif. Interaksi tersebut kemudian menjadi dialog budaya dan pertukaran pengetahuan. Orang-orang Tasikmalaya yang dianggap ahli urat emas berbagi pengetahuanya, begitu pula yang dilakukan oleh orang Manado. Prilaku sosial tersebut juga meningkat pada sesama tau Samawa. Lihat saja interaksi penambang dengan keluarga besarnya yang berada di desa-desa lain. Para penambang sering pula melakukan perjalanan dan silahturahmi dengan anggota keluarganya. Menjadi catatan penting, betapa seringnya penambang berpindah-pindah lokasi untuk mendapatkan hasil yang lebih besar, dan efek lainnya yakni seringnya penambang berkeliling seantero pulau Sumbawa.

Mental Wirausaha. Aktivitas Laboang jelas meningkatkan mental wirausaha orang Sumbawa. Penambangan dan perdagangan emas mengenalkan pada pengelolaan produksi dan perdagangan, termasuk manajemen sederhana yang menyertainya. Penambangan emas, mau tak mau, dikerjakan secara berkelompok. Kerja tim pun mengenalkan pada pembagian tugas, pembagian hasil, biaya operasional, waktu, dan logistik. Pola kerja dalam penambangan sedikit berbeda dengan pola pengelolaan ternak dan pertanian. Di sisi lain, penghasilan dari produksi tidaklah stabil seperti yang diperkirakan umum; ada kalanya banyak, ada saatnya sepi hasil. Dari sisilah kemudian menambah mental wirausaha di asah hingga tajam.

Alih informasi dan teknologi. Tanpa disadari, alih informasi dan teknologi tengah berlangsung, terutama alih teknologi dalam pengolahan emas. Teknologi rendah dan teknologi menengah dalam pengolahan emas mendadak hadir di Sumbawa, berbondong-bondong muncul, seperti arus bah. Orang Sumbawa pun sepertinya tidak menunggu bola liar, buktinya banyak sekali orang Sumbawa yang mencari tahu teknologi pengolahan emas ke pulau Jawa, Lombok hingga Manado. Perkenalan lanjut dengan teknologi ini pasti menambah kesadaran orang Sumbawa bahwa dengan teknologi bisa memudahkan produksi, produksi untuk bidang ekonomi apa pun.

Demikian segelintir efek positif dari demam pertambangan di pulau Sumbawa. Efek yang dihasilkan bukan hanya perputaran uang dan barang, melainkan efek jangka panjang berkaitan dengan sumber daya manusia. Begawan pembangunan Soedjatmoko dalam Dimensi Manusia dalam Pembangunan (1981) pernah mengingatkan betapa pentingnya mental manusia di suatu daerah terhadap kemajuan ekonomi dan sosial di daerah tersebut.

Diharapkan, suatu saat nanti, lahir pengusaha-pengusaha pertambangan dari tana Samawa ini. Bukan lagi pengusaha kelas teri namun pengusaha skala nasional. Semoga saja, pembelajaran bisnis sudah dimulai, tinggal bagaimana mendukung percepatan lahirnya pengusaha-pengusaha pertambangan asal Sumbawa.

ARAHMAN ALI, sekretaris Aliansi Indonesia Festival (ALIF), Bandung

Musakara Rea Lembaga Adat Tana Samawa 2011 telah usai diselenggarakan. Tiga hari, 8-10 Januari 2011, dialog para tetua adat berlangsung, berbagai ulasan dan usulan tercetuskan. Istana Dalam Loka menjadi saksi mana yang serius, siapa yang asal-asalan, siapa yang menyimpan kepentingan. Peristiwa besar yang diselenggarakan Lembaga Adat Tana Samawa ini sudah menghasilkan silaturahmi dan rekomendasi.

Musakara Rea tau Samawa ini merupakan kepingan penting dalam kitab histori Sumbawa. Tidak hanya sekadar pertemuan para budayawan, ilmuwan, pemerhati, dan seniman melainkan juga menjadi pandu bagi pertumbuhan Sumbawa di masa depan. Apa pun rekomendasi yang dihasilkan dari Musakara Rea ini, dipastikan akan memberi arah baru bagi pengembangan kebudayaan Samawa. Rekomendasi yang dihasilkan bukan saja terkait dengan kesenian semata, tetapi juga ihwal tata prilaku dan nasib budaya Samawa.

Musakara Rea LATS ialah modal sosial penting untuk kemajuan Samawa, dalam hal ini Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat. Terselenggaranya Musakara Rea ini dengan lancar dan sukses menunjukkan perhatian dan kekompakan tau Samawa membangun tanah airnya sendiri. Suasana silaturahmi dan kekeluargaan yang terjalin selama berlangsungnya musakara menepis jauh ego pribadi dan ego golongan. Menihilkan peristiwa dialog tau adat ini sama saja dengan mengabaikan semangat membangun tau Samawa.

Bukan Musakara Rea Plat Merah
Musakara Rea sebagai medium memajukan rekomendasi kebudayaan kepada pemerintah, swasta dan publik. Alangkah baiknya rekomendasi tak hanya menjadi rekomendasi kepada pemerintah saja melainkan ke seluruh stakeholder kebudayaan yang terkait dengan perubahan kebudayaan Samawa. Apabila Musakara Rea ini hanya difungsikan sebagai jalur rekomendasi ke pemerintah semata maka ini merupakan musakara plat merah.

Kita ingat bagaimana Kongres Kebudayaan terakhir yang terselenggara di Bogor. Dimana kongres dan arah pembicaraan condong ke kepentingan plat merah saja. Ujung-ujungnya rekomendasi yang dihasilkan pun lebih ditujukan ke pemerintah dan kepentingan sekelompok budaya.Begitu pula dengan penyelenggaraan Kongres Kesenian Indonesia 2005 yang lebih banyak diikuti oleh orang-orang yang berkepentingan dengan pemerintah, tak heran kemudian hasilnya pun tidak memberi terobosan baru dalam persoalan budaya terkini. Semoga Musakara Rea tau Samawa ini tidak melakukan kekurangan yang sama, mengeluarkan puluhan rekomendasi untuk pemerintah saja.

Salah satu ciri khas dari agenda plat merah yakni banyaknya seremonial pejabat. Padahal seremonial tersebut hanya pelengkap bukan yang utama. Agenda utama dalam musakara rea ini yakni pembicaraan budaya Samawa itu sendiri, karena mesti membahas bagaimana budaya Samawa berhadapan dengan perubahan budaya yang lebih rumit, cepat dan ekspansif. Budaya Samawa yang berhadapan dengan perubahan global-lokal. Tanpa mengutamakan pembicaraan tersebut maka musakara bisa dikatakan hanya mengulang-ulang pembahasan sebelumnya tanpa terobosan pemikiran. Itu artinya sekadar reuni pelaku budaya Samawa.

Dari pengamatan selama sidang pleno, terutama pada pembahasan program kerja dan rekomendasi masih saja bermunculan harapan ke pemerintah. Harapan tersebut tidaklah sedikit bahkan menjadi dominan. Hanya segelintir rekomendasi yang menukik langsung ke publik dan swasta, rekomendasi ke tau Samawa sendiri. Mesti disadari bahwa LATS bukanlah NGO atau pun lembaga semi-pemerintah. LATS itu lembaga adat yang berkepentingan terhadap seluruh kepentingan tau dan tana Samawa. LATS mesti ditempatkan di atas semua kepentingan sesaat dan kepentingan kelompok. LATS lebih dari sekadar penampung proyek pemerintah.

Hal menarik dalam sidang pleno yakni saat pembahasan asas LATS, memilih antar asas Islam dan Pancasila. Pembicaraan fondasi budaya Samawa sedemikian penting karena menentukan arah lembaga adat, apakah kemudian menjadi lembaga Islam atau lembaga adat. Pada akhirnya, peserta musakara memutuskan berasaskan Pancasila dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Inilah identitas Samawa yang telah hadir sejak dahulu kala, sejak era kesultanan. Identitas Samawa yang mendukung keberagaman serta berpedoman pada Islam.

Menarik memperhatikan laporan pertanggung jawaban pengurus LATS periode 2001-2009 yang disampaikan Dinullah Rayes. Pasasang naik-surut kinerjanya sudah menunjukkan upaya maksimal. Dengan dana dan tenaga yang terbatas pengurus periode sebelumnya sudah banyak melakukan kerja adat dan kerja budaya; seperti penerbitan buku, pemeliharaan bahasa Samawa sebagai bahasa ibu, pembangunan jaringan adat, pembentukan LATS kecamatan, dan  Musakara Rea 2011. Turun-naik kinerja lembaga adat ini mesti diperhatikan oleh semua pihak karena kerja sebuah lembaga bukan hanya kerja perorangan melainkan kerja bersama. Semakin banyak yang terlibat semakin ringan tugas dikerjakan. Catatan pengalaman pengurus lampau ini perlu diingat terus oleh pengurus LATS yang baru.

Sultan Sumbawa dan Pengurus LATS
Pengukuhan Sultan Sumbawa ialah salah satu hasil penting Musakara Rea LATS. Tidak ada interupsi, tidak ada penolakan saat keputusan disampaikan. Bahkan seru takbir, salawat dan isak tangis bahagia dari seluruh peserta yang menghadiri musakara. Sosok Sultan Sumbawa yang diharapkan yakni pemimpin moral dan pemimpin adat Samawa. Tau Samawa sudah lama menantikan hadirnya tokoh utama yang mengambil peran sebagai panutan adat. Sultan Kaharuddin IV sendiri jauh dari feodal. Beliau bahkan lebih ingin mewujudkan tana Samawa yang religius, modern dan demokratis. Sekali lagi, pengukuhan Sultan Sumbawa ini berarti penting bagi kelangsungan adat dan budaya Samawa di kemudian hari.

Keputusan penting lainnya yakni pengangkatan pengurus Lembaga Adat Tana Samawa masa kerja 2011-2016. Pengurus LATS ini diharapkan bisa bekerja dengan maksimal, sesuai dengan amanat Musakara Rea dan program kerjanya. Kinerja dari  badan eksekutif adat ini tentu dinanti-nanti, bukan saja oleh pemerintah melainkan oleh seluruh tau Samawa. Harapannya, pengurus LATS bisa bekerja melaksanakan program kerja serta membangun jaringan dengan lembaga adat lainnya.

Perdebatan resmi sudah usai.Panggung sudah dibersihkan. Musakara Rea sudah ditutup. Tetapi semangat membangun adat, tau dan tana Samawa terus menyala di seluruh jiwa peserta. Saatnya kini bagi Sultan Sumbawa dan pengurus LATS periode 2011-2016 mengumpulkan energi untuk bekerja demi tanah-air Sumbawa. Selamat bekerja. Jayalah tau dan tana Samawa! Amin. [Gaung NTB]

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.