April 2009


Lihat-lihat koleksi buku, dapat ada buku Keroncong Motinggo: Dua Kumpulan Sajak karya Subagio Sastrowardoyo (Balai Pustaka, 1985). Belum diketahui alasannya kenapa judulnya Keroncong Motinggo. Dari sekian puluh puisi yang terdapat dalam antologi ini dipilih dua sajak yang menarik: Lorelei dan Asmaradana. Kenapa menarik? Silakan menyimak sendiri.

Lorelei (Subagio Sastrowardoyo)

Hati perempuan tergelepar

di karang putih

Rambut yang rontok

melayangkan tangis pedih

– Nelayan, nelayan

Masukkan bidukmu

ke ceruk dalam

– Nelayan, nelayan

Curahkan kasihmu

ke peluk malam

Batu belah

mencucurkan darah

Selaput lumut

menjejak ke bawah

Nelayan mabuk

terjun ke lubuk

Perempuan jalang

terpekik girang

Asmaradana (Subagio Sastrowardoyo)

Sita di tengah nyala api

tidak menyangkal

betapa indah cinta berahi

Raksasa yang melarikannya ke hutan

begitu lebat bulu jantannya

dan Sita menyerahkan diri

Dewa tak melindunginya dari neraka

tapi Sita tak merasa berlaku dosa

sekedar menurutkan naluri

Pada geliat sekarat terlompat doa

jangan juga hangus dalam api

sisa mimpi dari sanggama

Ada niat membuat blog personal yang membicarakan ihwal kebudayaan Indonesia dan kebudayaan dunia. Sebuah blog yang merefleksikan pikiran, peristiwa dan gagasan yang berkaitan dengan kebudayaan. Saat ini belum terlihat ada blogger yang spesifik membicarakan hal ini. Memang, ada yang berbicara tentang kesenian namun belum masuk pada kebudayaan secara umum.

Sudah ada situs yang berbicara ihwal kesenian misalnya beritaseni.com, puisi.net, dan forumbudaya.com, jiwateater.com, dan lain sebagainya. Hanya saja masih dalam format situs, bukan dalam format blog. Situs seperti ini masih menonjolkan gaya berbicara seperti koran dan majalah biasanya. Belum masuk ke area yang lebih personal. Padahal masih banyak pemakai internet yang menyukai ulasan yang melihat peristiwa dari sudut pandang personal.

Tak buruk untuk membicarakan seni dan budaya lewat blog. Risikonya jumlah pengunjung blog yang terbatas. Lebih baik pengunjung terbatas namun berkualitas ketimbang banyak pengunjung namun asal lewat. Toh, penikmat perihal seni dan budaya di negeri ini tak seberapa. Lihat saja koran dan majalah yang membahas seni dan budaya, sirkulasinya tak banyak.

Di sisi ekonomi, blog lebih murah daripada cetak tabloid dan majalah. Jauh lebih murah. Kemudian untuk untuk distribusinya jauh lebih mudah. Tak perlu menyusun jaringan distribusi, tak perlu melobi toko-toko buku. Yang perlu dilakukan hanya mendaftarkan diri di mesin pencari dan mikroblogging (juga tukar link!), pembaca pun datang dengan sendirinya. Tentu saja pembaca yang berminat dengan seni dan budaya.