ARAHMAN ALI, sekretaris Aliansi Indonesia Festival (ALIF), Bandung
Musakara Rea Lembaga Adat Tana Samawa 2011 telah usai diselenggarakan. Tiga hari, 8-10 Januari 2011, dialog para tetua adat berlangsung, berbagai ulasan dan usulan tercetuskan. Istana Dalam Loka menjadi saksi mana yang serius, siapa yang asal-asalan, siapa yang menyimpan kepentingan. Peristiwa besar yang diselenggarakan Lembaga Adat Tana Samawa ini sudah menghasilkan silaturahmi dan rekomendasi.
Musakara Rea tau Samawa ini merupakan kepingan penting dalam kitab histori Sumbawa. Tidak hanya sekadar pertemuan para budayawan, ilmuwan, pemerhati, dan seniman melainkan juga menjadi pandu bagi pertumbuhan Sumbawa di masa depan. Apa pun rekomendasi yang dihasilkan dari Musakara Rea ini, dipastikan akan memberi arah baru bagi pengembangan kebudayaan Samawa. Rekomendasi yang dihasilkan bukan saja terkait dengan kesenian semata, tetapi juga ihwal tata prilaku dan nasib budaya Samawa.
Musakara Rea LATS ialah modal sosial penting untuk kemajuan Samawa, dalam hal ini Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat. Terselenggaranya Musakara Rea ini dengan lancar dan sukses menunjukkan perhatian dan kekompakan tau Samawa membangun tanah airnya sendiri. Suasana silaturahmi dan kekeluargaan yang terjalin selama berlangsungnya musakara menepis jauh ego pribadi dan ego golongan. Menihilkan peristiwa dialog tau adat ini sama saja dengan mengabaikan semangat membangun tau Samawa.
Bukan Musakara Rea Plat Merah
Musakara Rea sebagai medium memajukan rekomendasi kebudayaan kepada pemerintah, swasta dan publik. Alangkah baiknya rekomendasi tak hanya menjadi rekomendasi kepada pemerintah saja melainkan ke seluruh stakeholder kebudayaan yang terkait dengan perubahan kebudayaan Samawa. Apabila Musakara Rea ini hanya difungsikan sebagai jalur rekomendasi ke pemerintah semata maka ini merupakan musakara plat merah.
Kita ingat bagaimana Kongres Kebudayaan terakhir yang terselenggara di Bogor. Dimana kongres dan arah pembicaraan condong ke kepentingan plat merah saja. Ujung-ujungnya rekomendasi yang dihasilkan pun lebih ditujukan ke pemerintah dan kepentingan sekelompok budaya.Begitu pula dengan penyelenggaraan Kongres Kesenian Indonesia 2005 yang lebih banyak diikuti oleh orang-orang yang berkepentingan dengan pemerintah, tak heran kemudian hasilnya pun tidak memberi terobosan baru dalam persoalan budaya terkini. Semoga Musakara Rea tau Samawa ini tidak melakukan kekurangan yang sama, mengeluarkan puluhan rekomendasi untuk pemerintah saja.
Salah satu ciri khas dari agenda plat merah yakni banyaknya seremonial pejabat. Padahal seremonial tersebut hanya pelengkap bukan yang utama. Agenda utama dalam musakara rea ini yakni pembicaraan budaya Samawa itu sendiri, karena mesti membahas bagaimana budaya Samawa berhadapan dengan perubahan budaya yang lebih rumit, cepat dan ekspansif. Budaya Samawa yang berhadapan dengan perubahan global-lokal. Tanpa mengutamakan pembicaraan tersebut maka musakara bisa dikatakan hanya mengulang-ulang pembahasan sebelumnya tanpa terobosan pemikiran. Itu artinya sekadar reuni pelaku budaya Samawa.
Dari pengamatan selama sidang pleno, terutama pada pembahasan program kerja dan rekomendasi masih saja bermunculan harapan ke pemerintah. Harapan tersebut tidaklah sedikit bahkan menjadi dominan. Hanya segelintir rekomendasi yang menukik langsung ke publik dan swasta, rekomendasi ke tau Samawa sendiri. Mesti disadari bahwa LATS bukanlah NGO atau pun lembaga semi-pemerintah. LATS itu lembaga adat yang berkepentingan terhadap seluruh kepentingan tau dan tana Samawa. LATS mesti ditempatkan di atas semua kepentingan sesaat dan kepentingan kelompok. LATS lebih dari sekadar penampung proyek pemerintah.
Hal menarik dalam sidang pleno yakni saat pembahasan asas LATS, memilih antar asas Islam dan Pancasila. Pembicaraan fondasi budaya Samawa sedemikian penting karena menentukan arah lembaga adat, apakah kemudian menjadi lembaga Islam atau lembaga adat. Pada akhirnya, peserta musakara memutuskan berasaskan Pancasila dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Inilah identitas Samawa yang telah hadir sejak dahulu kala, sejak era kesultanan. Identitas Samawa yang mendukung keberagaman serta berpedoman pada Islam.
Menarik memperhatikan laporan pertanggung jawaban pengurus LATS periode 2001-2009 yang disampaikan Dinullah Rayes. Pasasang naik-surut kinerjanya sudah menunjukkan upaya maksimal. Dengan dana dan tenaga yang terbatas pengurus periode sebelumnya sudah banyak melakukan kerja adat dan kerja budaya; seperti penerbitan buku, pemeliharaan bahasa Samawa sebagai bahasa ibu, pembangunan jaringan adat, pembentukan LATS kecamatan, danĀ Musakara Rea 2011. Turun-naik kinerja lembaga adat ini mesti diperhatikan oleh semua pihak karena kerja sebuah lembaga bukan hanya kerja perorangan melainkan kerja bersama. Semakin banyak yang terlibat semakin ringan tugas dikerjakan. Catatan pengalaman pengurus lampau ini perlu diingat terus oleh pengurus LATS yang baru.
Sultan Sumbawa dan Pengurus LATS
Pengukuhan Sultan Sumbawa ialah salah satu hasil penting Musakara Rea LATS. Tidak ada interupsi, tidak ada penolakan saat keputusan disampaikan. Bahkan seru takbir, salawat dan isak tangis bahagia dari seluruh peserta yang menghadiri musakara. Sosok Sultan Sumbawa yang diharapkan yakni pemimpin moral dan pemimpin adat Samawa. Tau Samawa sudah lama menantikan hadirnya tokoh utama yang mengambil peran sebagai panutan adat. Sultan Kaharuddin IV sendiri jauh dari feodal. Beliau bahkan lebih ingin mewujudkan tana Samawa yang religius, modern dan demokratis. Sekali lagi, pengukuhan Sultan Sumbawa ini berarti penting bagi kelangsungan adat dan budaya Samawa di kemudian hari.
Keputusan penting lainnya yakni pengangkatan pengurus Lembaga Adat Tana Samawa masa kerja 2011-2016. Pengurus LATS ini diharapkan bisa bekerja dengan maksimal, sesuai dengan amanat Musakara Rea dan program kerjanya. Kinerja dariĀ badan eksekutif adat ini tentu dinanti-nanti, bukan saja oleh pemerintah melainkan oleh seluruh tau Samawa. Harapannya, pengurus LATS bisa bekerja melaksanakan program kerja serta membangun jaringan dengan lembaga adat lainnya.
Perdebatan resmi sudah usai.Panggung sudah dibersihkan. Musakara Rea sudah ditutup. Tetapi semangat membangun adat, tau dan tana Samawa terus menyala di seluruh jiwa peserta. Saatnya kini bagi Sultan Sumbawa dan pengurus LATS periode 2011-2016 mengumpulkan energi untuk bekerja demi tanah-air Sumbawa. Selamat bekerja. Jayalah tau dan tana Samawa! Amin. [Gaung NTB]