Ada hal yang menarik dari tulisan Restoe Prawironegoro Ibrahim,  Antropologi dalam Dunia Koreographer (Suara Karya Online, 2/12/2006). Terutama ihwal demistifikasi peran koreografer. Seni tari di Indonesia dipercaya terpengaruh oleh kekuatan tekno-ekonomi. Sejak tari menjadi bagian dari pertunjukan dalam-gedung dan ambil bagian dari pariwisata, tari terpengaruhi kekuatan ekonomi dan teknologi.

Untuk memahami karya-karya seni diperlukan analisis diluar pendekatan estetis. Karya seni bukan lagi sebagai karya murni dari seorang seniman, namun sudah terpengaruhi oleh perubahan masyarakat di sekelilingnya. Ada interaksi sosial-politik yang berperan penting dalam setiap karya seorang seniman. Saran dari Restoe ialah pendekatan antropologi untuk memahami karya-karya koreografer.

Sebagai contoh, lihat saja koreografer Sardono W. Kusumo. Seorang koreografer sekaligus penari yang memiliki rekam jejak terang-benderang di kancah tari Indonesia. Karya-karyanya mendapat perhatian dari banyak pihak, bukan hanya dari kalangan tari namun kalangan luar tari. Karyanya yang menarik seperti Meta Ekologi, Hutan Plastik, Kerudung Asap di Kalimantan, serta Tekhnophobia. Karya-karya Sardono meletakkan manusia dalam posisi mayor dalam ekologi. Di sisi lain, Sardono membebaskan tari dari jebakan “hanya untuk tari”. Ia menempatkan tari sebagai media untuk menyatakan pikiran dan penyadaran kepada penontonya. Sardono tak lagi mengungkap ihwal ruang, waktu dan gerak, melainkan sudah menjurus pada persoalan ekologi di Indonesia.

Sardono membawa tari pada persoalan-persoalan aktual. “Ia kini lebih tepat disebut sebagai seorang koreographer plus,” pungkas Restoe.